Desain Interior Bangunan Di Bali


Efrata Interior, Desainer dan Kontraktor Interior Di Bali, dalam artikel ini akan membahas tentang adat bangunan yang ada di Bali.

Secara vertikal desain bangunan dibagi di Bali menjadi 3 bagian (Tri Angga) yaitu :

  1. Utama Angga adalah atap
  2. Madhyama angga adalah badan bangunan yang terdiri dari tiang dan dinding
  3. Kanista Angga adalah batur (pondasi).

Selain ada pembagian dalam desain bangunan di Bali, diperlukan juga Harmonisasi desain dengan potensi atau sumber daya alam yang ada lingkungan. Harmonisasi dengan lingkungan diwujudkan dengan memanfaatkan potensi setempat seperti bahan bangunan dan prinsip- prinsip bangunan Hindu, yang antara lain adalah:

1. Pemilihan Tanah Pekarangan. 

Tanah yang dipilih untuk lokasi membangun perumahan diusahakan tanah yang miring ke timur atau miring ke utara, pelemahan datar (asah), pelemahan inang, pelemahan marubu lalah(berbau pedas).

Tanah yang patut dihindari sebagai tanah lokasi membangun perumahan adalah :

*karang karubuhan (tumbak rurung/ jalan),

*karang sandang lawe (pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan),

*karang sulanyapi (karang yang dilingkari oleh lorong (jalan)

*karang buta kabanda (karang yang diapit lorong/ jalan),

*karang teledu nginyah (karang tumbak tukad),

*karang gerah (karang di hulu Kahyangan),

*karang tenget,

*karang buta salah wetu,

*karang boros wong (dua pintu masuk berdampingan sama tinggi),

*karang suduk angga, karang manyeleking dan yang paling buruk adalah

tanah yang berwarna hitam- legam, berbau “bengualid” (busuk)

Tanah- tanah yang tidak baik (ala) tersebut di atas, dapat difungsikan sebagai lokasi membangun perumahan jikalau disertai dengan upacara/ upakara agama yang ditentukan, serta dibuatkan palinggih yang dilengkapi dengan upacara/ upakara pamarisuda.

2. Perumahan Dengan Pekarangan Sempit, bertingkat dan Rumah Susun.

a. Pekarangan Sempit.

Dengan sempitnya pekarangan, penataan pekarangan sesuai dengan ketentuan Asta Bumi sulit dilakukan. Untuk itu jiwa konsepsi Tri Mandala sejauh mungkin hendaknya tercermin (tempat pemujaan, bangunan perumahan, tempat pembuangan (alam bhuta).

Karena keterbatasan pekarangan tempat pemujaan diatur sesuai konsep tersebut di atas dengan membuat tempat pemujaan minimal Kemulan/ Rong Tiga atau Padma, Penunggun Karang dan Natar.

b. Rumah Bertingkat.

Untuk rumah bertingkat bila tidak memungkinkan membangun tempat pemujaan di hulu halaman bawah boleh membuat tempat pemujaan di bagian hulu lantai teratas.

c. Rumah Susun.

Untuk rumah Susun tinggi langit- langit setidak- tidaknya setinggi orang ditambah 12 jari. Tempat pemujaan berbentuk pelangkiran ditempatkan di bagian hulu ruangan.

Demikian penjelasan tentang desain bangunan Di Bali, semoga bermanfaat bagi anda yang ingin mengetahui lebih tentang penjelasan adat bangunan di Bali.

More Info untuk Anda yang akan men-desain bangunan di Bali, bisa hubungi kami di:

www.efratainterior.com

CP: Denny 085640220094

 

www.efratainterior.com

Melayani:
Desain dan Kontraktor Interior Bali
Desain dan Kontraktor Interior Jakarta
Desain dan Kontraktor Interior Surabaya
Desain dan Kontraktor Interior Semarang
Untuk info lebih lanjut, hubungi kami di:
Cp. Denny
0856 4022 0094 (WA/tlp/sms)

Free konsultasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *