Ruang Positif dan Negatif pada Rumah Adat Bali


Setiap hal memiliki sisi positif dan negatif nya. Dalam hal ini, termasuk Rumah Adat Bali memiliki Ruang (interior) positif dan negatif.

Dalam blog ini, Efrata Desain Interior Bali dan Kontraktor Bali, akan membahas tentang Ruang Positif dan Negatif Rumah Adat Bali.

Sebagai satu-satunya jalan masuk menuju ke hunian, angkul-angkul berfungsi sebagai gerbang penerima. Kemudian orang akan dihadapkan pada dinding yang menghalangi pandangan dan dibelokan ke arah sembilan puluh derajat. Keberadaan dinding ini (aling-aling), dilihat dari posisinya merupakan sebuah penghalang visual, dimana ke-privacy-an terjaga. Hadirnya aling-aling ini, berfungsi menutup bukaan yang disebabkan oleh adanya pintu masuk. Sehingga apabila dilihat dari dalam (interior) hunian, tidak ada perembesan dan penembusan ruang.

Keberadaan aling-aling ini memperkuat sifat ruang positif yang ditimbulkan oleh adanya dinding keliling yang disebut oleh orang Bali sebagai penyengker. Ruang di dalam penyengker, adalah ruang dimana penghuni beraktivitas. Adanya aktivitas dan kegiatan manusia dalam suatu ruang disebut sebagai ruang positif. Penyengker adalah batas antara ruang positif dan ruang negatif.

Dilihat dari kedudukannya dalam nawa-sanga, “natah” berlokasi di daerah madya-ning-madya, suatu daerah yang sangat “manusia”. Apalagi kalau dilihat dari fungsinya sebagai pusat orientasi dan pusat sirkulasi, maka natah adalah ruang positif. Pada natah inilah semua aktifitas manusia memusat, seperti apa yang dianalisa Ashihara sebagai suatu centripetal order.

Pada daerah pamerajan, daerah ini dikelilingi oleh penyengker (keliling), sehingga daerah ini telah diberi “frame” untuk menjadi sebuah ruang dengan batas-batas lantai dan dinding serta menjadi ‘ruang-luar’ atau eksterior dengan ketidakhadiran elemen atap di sana.
Nilai sebagai ruang positif, adalah adanya kegiatan penghuni melakukan aktifitasnya disana.

Pamerajan atau sanggah, adalah bangunan paling awal dibangun, sedang daerah public dan bangunan service (paon, lumbung dan aling-aling) dibangun paling akhir. Proses ini menunjukan suatu pembentukan berulang suatu ruang positif dimana ruang positif pertama kali dibuat. Ruang diluarnya adalah ruang negatif. Kemudian ruang negatif tersebut diberi ‘frame’ agar menjadi sebuah ruang positif baru. Pada ruang positif baru inilah hadir masa-masa uma meten, bale tiang sanga, pengijeng, bale sikepat, bale sekenam, lumbung, paon dan lain-lain. Kegiatan serta aktifitas manusia terjadi pada ruang positif baru ini.

www.efratainterior.com

Melayani:
Desain dan Kontraktor Interior Bali
Desain dan Kontraktor Interior Jakarta
Desain dan Kontraktor Interior Surabaya
Desain dan Kontraktor Interior Semarang
Untuk info lebih lanjut, hubungi kami di:
Cp. Denny
0856 4022 0094 (WA/tlp/sms)

Free Konsultasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *